[Cerpen] CLASSMATES Part 1/3

CLASSMATES (Part 1/3)

Judul : Teman Sekelas

Author : aneeminie90

Casts : Sinatria, Aurum, Alex, Loli

Genre : Schoollife, teen, detective, mysteri

“Ini cerpen remake dari cerpen aku pas dapet tugas Bahasa Indonesia di SMA, udah sekitar 9 tahun yang lalu, heheheheh, cuma karakternya aja yang aku ganti namanya”

 

Sinatria terus berjalan menyusuri deretan ruang kelas yang masih asing baginya. Rupanya MOS yang baru berakhir kemarin belum bisa membuatnya beradaptasi dengan lingkungan SMA yang baru, malah sikap kakak-kakak seniornya kemarin membuatnya tambah jengkel dan bosan dengan suasana sekolah yang baru. Memang Sinatria, atau biasa disapa Sin baru berada di kota kecil ini beberapa hari yang lalu. Setelah ia lulus SMP, ia langsung ikut kedua orang tuanya pindah dari Jakarta ke kota kecil ini. Sebenarnya ia tidak mau meninggalkan Jakarta, namun kedua orang tuanya tidak mau membiarkan Sin tinggal sendiri di Jakarta. Ia masih harus mendapatkan pengawasan dari orang dewasa, begitu kata ayahnya. Sin terus berjalan. Sampai di pojok teras ia melewati tangga menuju lantai dua di mana kelasnya berada. Sampai di ujung tangga dia membaca tulisan di papan nama kelas “X7”. Setelah ia yakin bahwa itu adalah kelasnya, kemudian ia masuk ke dalam kelas tersebut. Tiba-tiba sebuah penghapus melayang dan hampir mengenai kepalanya. Sin langsung berkelit menghindari serangan mendadak itu.

“Wah, wah, wah, kamu hebat juga ya bisa menghindari seranganku tadi,” kata seorang anak bertubung jangkung,” gerakanmu tadi benar-benar cepat dan lincah!” lanjutnya.

Sin tidak menanggapinya, dengan perasaam sedikit dongkol ia berjalan melewati anak tadi menuju ke bangku kosong yang ada di depan bangku guru. Suasana kelas itu terasa sepi karena para siswa belum datang semuanya, baru anak jangkung dan ia sendiri yang berada di dalam kelas tersebut. Merasa diabaikan, anak jangkung tadi sedikit jengkel.

“Hey! Rupanya kamu marah ya sama sikapku tadi?”tanyanya.

“Kalau tahu kenapa masih tanya?” sahut Sin dengan agak kesal. Sudah tahu nanya, batinnya.

“Maaf deh, Cuma bercanda habis nggak ada kerjaan sih. Hari pertama masuk sekolah benar-benar bikin stress. Oh ya, namaku Alex,” kata anak jangkung tadi sambil mengulurkan tangannya pada Sin.

“Sinatria, tapi cukup panggil aku Sin saja,” kata Sin sambil membalas uluran tangan Alex. Kemudian dia duduk di bangkunya serta mengeluarkan buku Kimia kesukaannya. Membalik-balik halaman bukunya dengan penuh antusias tanpa mempedulikan Alex yang sedari tadi memperhatikannya dengan heran. Dengan cepat dan setengah berlari, Alex segera mengambil tasnya yang berada di bangku belakang kemudian melemparnya di samping kursi Sin dan duduk di sana. Sin menoleh dengan penuh tanda tanya. Memandang wajah Alex yang sedang senyum-senyum sendiri.

“Ngapain kamu duduk di sampingku? Pakai senyum-senyum lagi?” tanya Sin sedikit jengkel dengan tingkah laku teman sekelasnya ini.

“Aku mau duduk di sini aja yah. Ya, sekalian nemenin kamu. Kayanya kamu bukan anak asli kota ini ya? Tampangmu kamu sedikit beda dari anak-anak yang berasal dari kota ini,” kata Alex menebak.

Sin segera meletakkan buku kimia-nya,”Iya,”jawabnya,”aku memang bukan berasal dari kota ini, aku dari Jakarta. Ngomong-ngomong, memangnya asal daerah mana orang itu bisa dideteksi dari tampangnya ya? Kok aku baru tahu?”

Alex tertawa mendengar ucapan Sin,”Rupanya benar dugaanku kalau kamu ini memang orang yang serius. Ha…ha…ha…, aku tadi hanya bercanda,”lanjutnya.”ya nggak mesti lah asal daerah mana orang bisa dideteksi dari tampang. Aku tadi Cuma asal nebak aja, eh, ternyata benar ya,”Alex tertawa membuat Sin bertambah kesal. Kemudian dia segera melanjutkan kegiatan membacanya. Sementara Alex terus mengoceh tentang macam-macam hal yang bahkan Sin tidak mau peduli.

Tak berapa lama ruang kelas menjadi ramai karena para siswa sudah mulai berdatangan. Semakin lama Sin dan Alex semakin akrab satu sama. Ya, walau awalnya menjengkelkan, namun menurut Sin, Alex termasuk kategori anak yang menyenangkan dan riang, sehingga bisa mengimbani sikap dia sendiri yang cukup dingin dan datar. Mereka berdua dengan asyik saling bercerita tentang keluarga dan pengalaman ketika masih SMP masing-masing. Sin cukup senang dengan Alex yang sifatnya ceria itu. Hanya terkadang ia jengkel kalau Alex mulai bertingkah seenaknya sendiri misalnya memukul kepalanya tanpa rasa bersalah dan berbicara dengan keras sekeras guntur hingga kadang nyaris membuat gendang telinga Sin mau pecah rasanya. Namun, hal itu tidak masalah buat Sin, dia cukup senang di hari pertamanya sekolah di tempat yang dia sendiri belum terlalu familiar, sia sudah memiliki seorang kawan yang mengasyikkan.

Tet…tet…tet…

Bel tanda masuk telah berbunyi yang artinya pelajaran jam pertama akan segera dimulai. Anak-anak kelas X7 yang semula ramai mulai duduk di bangkunya masing-masing. Suasana kelas mulai hening ketika seorang guru pria berperawakan sedang, dengan usia sekitar 40-an tahun masuk ke dalam kelas. Dengan suara yang lembut tapi tegas, ia menyapa murid-muridnya.

“Selanat pagi anak-anak. Perkenalkan nama saya Sastranegara, Guru Bahasa Indonesia kalian sekaligus juga mengampu sebagai wali kelas X7, jadi saya wali kelas kalian. Kalian bisa memanggil saya Pak Sastra saja. Sebagai wali kelas tentu kalian akan sering bertukar pikiran dengan saya. Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan saya dalam keberhasilan saya dalam mengajar dan keberhasilan saya untuk menjadi wali kelas yang baik bagi kalian. Karena di sini, saya yang bertanggung jawab terhadap kalian semuanya, murid-muridku kelas X7,” kata Pak Sastranegara membuka percakapan dalam kelas. Anak-anak mengangguk tanda mengerti akan apa yang baru saja dikatakan oleh wali kelas mereka itu.

“Baiklan, sebelum kita mulai pelajarannya, saya akan mengabsen kalian satu per satu. Sekalian untuk menghafal nama-nama kalian,” Pak Sastra kemudian mengambil buku absen yang ada di meja dan mulai memanggil nama siswanya satu per satu. Ketika Pak Sastra sedang sibuk mengabsen siswa-siswanya, Sin memperhatikan guru sekaligus wali kelasnya itu dengan teliti. Rambutnya lurus tipis disisir rapi, matanya tajam dan ada guratan di sekitar wajahnya yang menandakan bahwa ia adalah seorang yang keras, begitu pikir Sin. Belum selesai Pak Sastra mengabsen siswanya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas. Semua siswa termasuk Sin menoleh ke arah pintu kelas mereka yang memang tertutup. Nampak dua orang gadis dengan seragam SMA masuk dengan ragu-ragu, yang satu berambut ikal panjang dan yang satu lurus panjang.

“Maaf Pak, kami terlambat soalnya tadi kendaraan yang kami naiki mogok di jalan,” kata gadis berambut  lurus sambil menyerahkan surat keterangan terlambat dari BK. Pak Sastra menerima surat tersebut.

“Kalian tahu?” tanya Pak Sastra kepada dua gadis remaja di hadapannya dengan tatapan khasnya yang tajam dan menusuk,” sekolah ini sangat menjunjung kedisiplinan. Hari ini adalah hari pertama masuk dan kalian berdua sudah melakukan sebuah pelanggaran,” lanjutnya. Si gadis berambut ikal terlihat bergetar, takut dan malu di hadapan guru dan teman-teman sekelasnya. Namun tidak dengan gadis yang berambut lurus.

“Kami tahu dan sadar Pak,” kata gadis berambut lurus sambil membalas tatapan tajam gurunya tanpa rasa takut, sementara itu si rambut ikal sudah berdiri gemetaran di belakangnya sambil menunduk.”Tapi kami sudah menjelaskan alasan keterlambatan kami Pak. Dan kami harap Bapak bisa maklum karena kami juga tidak menyangka kalau akan ada halangan ketika hari pertama masuk sekolah kami. Kami berjanji, kami tidak akan mengulangi keterlambatan kami Pak,” lanjutnya. Pak Sastra sama sekali tidak menggubris kata-kata dari gadis itu.”Duduk!” Perintahnya.

Kedua gadis tadi segera duduk di bangku depan sebelah Sin dan Alex yang memang masih kosong (karena anak-anak zaman sekarang lebih senang memilih duduk di bangku belakang daripada di depan yang dekat dengan meja guru). Sin memperhatikan gadis berambut lurus itu dengan seksama. Sin juga merasa kalau Alex seperti memperhatikan gadis yang berambut lurus itu dengan mata mendelik, padahal biasanya Alex selalu menunjukkan ekspresi yang riang dan menyenangkan bahkan terhadap teman yang baru dikenalnya, contohnya Sin. Tiba-tiba Alex menoleh ke arah Sin,

“Ngapain kamu Sin? Naksir sama cewek itu ya?” tanya Alex tiba-tiba dengan nada yang aneh.

“Tidak kok, jangan ngaco kamu!” balas Sin,” aku hanya merasa aneh dengan dia. Dia sama sekali tidak takut dengan kata-kata Pak Sastra tadi.  Justru dia nampak menantang. Benar-benar terlalu berani untuk seorang siswa baru.”

“Yah, nggak tahu juga sih. Tapi Sin, sikapmu itu juga sikap yang amat sok tahu untuk seorang siswa baru. Kau tahu, dari tadi kamu kelihatannya menyelidik apa saja. Memperhatikan setiap orang yang baru kau lihat seperti mau membaca karakternya. Bikin aku khawatir tahu,” kata Alex. Sin hanya diam saja. Tiba-tiba dia merasa seperti ada sesuatu yang aneh tetapi dia tidak tahu apa itu. Dia tidak dapat memikirkannya lebih lanjut karena ia harus memperhatikan pelajaran sebelum ditegur oleh Pak Sastra yang kini sudah memulai pelajaran. Pelajaran Bahasa Indonesia di hari pertamanya sekolah.

**********

Seminggu sudah berlalu sejak hari pertama Sin menjalani hidupnya di SMA tersebut. Ia sudah agak kerasan berada di SMA tersebut. Kini ia sudah semakin akrab dengan teman-teman sekelasnya. Ternyata teman-teman sekelasnya itu cukup baik dan enak diajak omong. Alex yang paling dekat dengannya, yang paling sering mengajaknya mengobrol karena memang mereka berdua satu bangku. Selain itu juga Alex-lah teman SMA pertamanya, yang ia kenal pertama kali, walaupun perkenalan mereka awalnya agak menjengkelkan juga untuk Sin. Sin sudah bisa beradaptasi dengan lingkunga sekolahnya, dengan guru-gurunya, bahkan teman teman yang beda kelas. Dalam satu minggu dia sudah bisa menghafal seluruh ruangan yang ada di sekolah itu. Sampai-sampai Alex menjulukinya sebagai “peta berjalan” (dan Sin sangat jengkel bila Alex memanggilnya begitu, seenaknya saja menyebut orang, pikirnya). Seluruh teman sekelas juga sudah ia kenal dengan baik, kecuali satu orang. Gadis yang waktu hari pertama terlambat dulu, ia hanya tahu namanya saja. Aurum Putri Wijaya nama gadis itu. Gadis yang berambut hitam lurus dan panjang, yang sikapnya sedikit pendiam namun tegas dan pemberani. Sin belum pernah sekalipun bercakap-cakap dengan gadis yang bernama Aurum itu. Kalau ia perhatika, Aurum cukup judes dan susah untuk diajak ngobrol. Sin hanya menebak dari wajah dan ekspresinya saja ketika dia bicara. Ketika berbicara, jarang sekali Aurum memandang lawan bicaranya. Itulah mengapa jarang ada yang mau berteman dengannya kecuali teman sebangkunya, Loli yang dulu juga sama-sama terlambat pas hari pertama masuk. Padahal menurut Sin, Aurum cukup cantik, sayang judes.

“Hey! Melamun aja kamu!” suara Alex yang baru datang ke kelas mengagetkannya.” Sudah aku duga, dari tadi kamu memperhatikan Aurum, jangan-jangan…” belum selesai Alex meneruskan kalimatnya sudah dipotong oleh Sin.

“Udah aku bilang kan kalau ngomong hati-hati, jangan sembarangan!” kata Sin.”Aurum itu sedikit aneh, mukanya judes dan kalau ngomong nggak mau memandang lawan bicaranya. Pokoknya tingkah lakunya aneh. Aku sedikit bingung,” tambahnya.

“Oh, he he he,” Alex tertawa pelan. Kemudian dia meletakkan tasnya di kursi bangkunya dengan menggantungkan salah satu tali tas ranselnya pada sisi kursi sehingga tasnya sedikit menggantung.

“Tasmu bisa jatuh kalau kamu letakkan begitu,” kata Sin yang kini sedang asyik membaca buku fisika-nya. Alex kemudian duduk di samping Sin, sambil memperhatikan Sin yang sedang membaca.”Rajin benar kamu. Kalau lagi santai-santai begini malah baca buku pelajaran. Emang nggak capek belajar terus?”

Alex tersenyum,” Yah, yang namanya belajar itu nggak boleh capek. Kita kan pelajar, jadi tugasnya ya belajar.”

“Tuh kan, dasar bocah jenius! Kerjaannya ceramah terus juga. Bosan tahu dengerin kamu pidato terus tiap hari tentang belajar!” tukas Alex. Sin hanya tersenyum.

“Oh ya, Lex. Aku dengar, Aurum itu dari SMP 2 ya. Bukannya kamu dulu SMP 2?” Tanya Sin sambil meletakkan bukunya.

“Iya sih, tapi aku nggak begitu kenal sama dia. Aku dulu sekelas sama dia, tapi ya, kaya sekarang ini, jarang ngobrol,” kata Alex.

“Lho kok jarang ngobrol kenapa?” tanya Sin tertarik.

“Yah, kamu tahu sendiri kan dia itu judes dan sombong. Nggak mau mandang lawan bicaranya saat ngobrol. Sejak SMP dia itu memang nggak punya teman. Malas lah mau ngomong sama dia. Dia juga nggak pernah baik sama aku. Kayanya dia nggak suka sama aku. Tapi, kok dia akrab banget ya sama Loli, padahal mereka baru kenal,” kata Alex menjelaskan.

Sin mengernyitkan dahinya,” Jadi ternyata Loli nggak satu SMP sama kamu dulu?” tanyanya.

“Nggak, memangnya kamu pikir Loli juga satu SMP dulu sama aku?”

Sin mengangguk,”Iya, aku pikir Loli akrab sama Aurum karena dulu mereka satu SMP. Terus mereka bisa terlambat bareng. Salah satu hal yang membuatku berpikir kalau mereka dulu teman SMP. Saking akrabnya.” Alex hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mengetahui teman dekatnya itu sangat serius.

**********

Iklan

Tentang aneeminie90

i'm a funny girl who loves KPOP especially super junior ♥ 사 랑 해 요 슈 퍼 주 니 어 you always be in my heart I'm also a SMstan :) I love Jorge Lorenzo and Thomas Sangster also :D
Pos ini dipublikasikan di Cerpen dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s