[Cerpen] CLASSMATES Part 2/3

CLASSMATES (Part 2/3)

Judul : Teman Sekelas

Author : aneeminie90 (Park Nichan)

Casts : Sinatria, Aurum, Alex, Loli

Genre : Schoollife, teen, detective, mysteri

 

Part 2.

Dengan cepat Sin berjalan menuju ruang kelasnya. Walaupun hari masih pagi tetapi ia terlihat tergesa-gesa menuju ruang di mana ia menghabiskan waktu hampir setengah hari-nya. Setelah sampai di ruang kelas, nampak sesosok tubuh sudah duduk manis di salah satu bangku terdepan, ia pikir dirinyalah yang paling awal datang ke kelas. Gadis itu, Aurum yang  sedang membaca buku pelajaran menoleh ke arah Sin. Sin yang memang agak aneh dengan Aurum terkejut ketika melihat Aurum sudah ada di dalam kelas dengan mengenakan pakaian olahraga.

“Tumben sudah datang, biasanya kamu masuk kelas agak siang,” sapa Sin memulai percakapan, mencoba untuk menghilangkan kecanggungan.

“Memangnya kenapa? Tidak boleh?” kata Aurum dengan ketus,” bukan kamu saja kan yang bisa datang pagi-pagi.”

“Kenapa kamu ketus sekali? Apa tidak bisa kamu sedikit ramah terhadap temanmu, apalagi kita teman sekelas. Menurutku, kalau kamu selalu bersikap seperti itu, kamu bisa dijauhi teman-temanmu seperti waktu di SMP dulu,” kata Sin dengan agak emosi. Sampai-sampai dia tidak sadar telah menyinggung hal yang sebenarnya Sin sendiri kurang begitu tahu.

Aurum terkejut mendengar perkataan Sin yang nadanya seperti menasehatinya, siapa dia?

“Siapa yang bilang seperti itu?” tanyanya. Sin diam saja, ia tahu kalau ia baru saja salah bicara. Tapi Aurum tidak terlihat marah, justru ia tersenyum hambar.”Oh, aku tahu. Pasti Alex yang cerita sama kamu ya. Memangnya apa saja yang sudah ia ceritakan padamu? Aku ini kejam? Suka marah-marah? Judes? Atau yang lainnya???”

Sin semakin merasa tidak enak karena apa yang ia pikirkan selama ini ternyata keluar dari mulut Aurum sendiri.”Maaf, bukan maksudku…”

“Ya,” potong Aurum sambil beranjak dari bangkunya,”terserah kamu mau berfikir seperti apa. Ingat pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’, jangan mudah percaya dengan muka fake. Oke, aku permisi dulu mau ke lapangan, kita harus bersiap untuk jam pertama kita olahraga.”

Sin hanya terdiam, bahkan ketika Aurum sudah menghilang ia tetap saja diam. Tidak tahu harus melakukan apa. Otaknya sedang mencoba mencari sesuatu.

**********

Suasana lapangan basket benar-benar ramai oleh anak-anak dari kelas X7 yang saat itu sedangan pelajaran olahraga. Alex yang baru saja izin dari toilet langsung bergabung dengan anak-anak yang sedang bermain basket. Berkali-kali Sin nyaris jatuh karena didorong oleh Alex ketika ia berusaha untuk memasukkan bola ke ring.

Setelah pelajaran olahraga selesai, anak-anak langsung membubarkan diri dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang langsung ganti seragam, ada yang main-main dan ada pula yang ke kantin untuk mengisi perut.

Sin dan Alex serta beberapa anak lainnya masih asyik bermain basket di lapangan. Sedang asyik bermain, tiba-tiba Alex menepuk bahu Sin. Sin menoleh dan melihat jari telunjuk Alex menunjuk ke arah sesuatu, lebih tepatnya seseorang. Ia melayangkan padangan ke arah telunjuk Alex dan melihat seseorang sedang berjalan membelakangi mereka.

“Lihat, mau ke mana si Aurum itu. Kalau mau ganti seragam atau ke kantin kenapa dia sendirian ya. Dasar anak aneh. Lihat, dia kayanya terburu-buru,” kata Alex dengan nada sinis. Sin hanya menggeleng.

“Oh, dia tadi katanya dipanggil sama wali kelas kita. Nggak tahu ngapain,” tiba-tiba ada suara di belakang mereka. Sin dan Alex menoleh, dan melihat Loli sedang berdiri di belakang mereka.

“Dipanggil Pak Sastra? Ada apa ya?” gumam Sin.

“Alah, pasti dia bikin gara-gara, kan dia selalu membantah Pak Sastra,” kata Alex. Nada bicaranya terdengar berapu-api. Loli hanya mengangkat bahunya ketika mendengar kata-kata Alex yang terkesan menuduh sahabatnya itu.

Setelah puas bermain basket, Sin dan Alex langsung pergi ke dalam kelas. Suasana kelas masih sepi. Sebagian anak-anak masih berada di kantin, mengisi perut mereka yang telah kosong akibat olahraga ataupun karena belum sarapan. Tiba-tiba setelah membuka tasnya, Alex menjerit sangat keras. Sin dan beberapa teman sekelas terkejut dan menoleh ke arah Alex. Tampak Alex sedang memejamkan matanya dan memegangi pergelangan tangan kanannya. Sin segera menghampiri Alex yang kini terduduk di bangkunya dengan kepala bersandar di tembok kelas. Sin melihat ada bekas luka gigitan di pergelangan tangan Alex. Ia menjadi curiga dan segera memeriksa tas Alex. Sin terkejut ketika mendapati ada seekor ular kecil ada di tas Alex, ular yang ia tahu itu berbisa.

“Astaga!” seru Sin.”Tolong, siapapun panggilkan Pak Sastra! Alex digigit ular!”

Suasana kelas seketika ricuh. Alex masih kesakitan di bangkunya. Tubuhnya kaku, tak mau digerakkan dan gemetaran. Sin sangat bingung. Ia bingung siapa yang tega melakukan hal tersebut pada kawannya. Sementara itu Sin bingung bagaimana ia harus mengambil ular berbisa itu dari dalam tas Alex.

Alex dengan terbata-bata berkata,” ular itu harus diambil dengan kaus tangan yang tebal. Coba kalau ada yang membawanya,” setelah mendengar kata-kata tersebut, Pak Sastra yang baru tiba langsung kebingungan mencari kaus tangan namun ia tak mendapatkannya. Tiba-tiba Aurum berseru dari arah bangkunya.

“Ini aku bawa kaus tangan, tapi kok…” wajah Aurum menunjukkan ekspresi keheranan. Ia menatap tasnya yang ada di sela-sela bangku dengan heran sekaligus bingung dan sedikit gemetar. Semua menoleh ke arah Aurum. Pak Sastra langsung menghampirinya dan mengambil kaus tangan yang dipegang oleh Aurum. Pas Sastra langsung mengambil ular hidup itu dari dalam tas Alex dengan hati-hati. Kemudian Pak Sastra langsung keluar. Sin heran, mau dibawa ke mana ular itu, seharusnya kan disimpan untuk bukti. Aurum masih diam di bangkunya, tubuhnya gemetar. Sementara itu, Alex yang tak kunjung segera dibawa ke rumah sakit, wajahnya pucat pasi.

“Lho, Aurum ini apa?” tanya Loli dengan keras. Tangannya memegang sebuah kotak makanan berukuran sedang yang ia keluarkan dari tas Aurum. Ia membuka kotak makanan tersebut. Pak Sastra yang baru saja kembali ke kelas segera merebut kotak makanan itu dari tangan Loli. Ia membuka kotak makanan itu, melihat isinya dan memandang tajam pada Aurum.

“Aurum, apa kamu membawa kotak makanan ini?” tanya Pak Sastra.

“Oh, eh itu kotak tempat makanan kecil yang saya bawa Pak,” jawab Aurum.

“Lalu, kenapa kosong, katanya tempat makanan kecil?”

“Oh, makanannya sudah saya habiskan tadi Pak.”

Pandangan Pak sastra semakin tajam,”Oh, begitu, apa kamu juga makan sisik, Nak?”

Kening Aurum mengernyit,”maksud Bapak???” Pak sastra mengambil sesuatu dari dalam ts Aurum dan menunjukkannya kepada seluruh orang yang berada di ruang kelas tersebut. Sin melihat sebuah benda kecil berkilauan sedang dipegang oleh Pak Sastra.

“Itu sisik ular kan Pak?” seru Sin. Semua yang menyaksikan terkejut termasuk Aurum, wajahnya pias. Aurum tampak kebingungan dan tidak tahu harus bicara apa.

“Jangan-jangan kamu sengaja ya Aurum, mau menyakiti Alex?” seru Loli keras. Aurum terkejut dan menatap Loli dengan ekspresi tidak percaya. Dia merasa terpojok dan tidak menyangka kalau sahabatnya itu dengan teganya akan menuduhnya seperti itu.

“Tunggu, itu tidak benar. Aku…aku…nggak pernah…” Aurum sudah benar-benar kehabisan kata-kata, air mata mulai turun dari kedua matanya.

“Baikalh kalau begitu,” kata Pak Sastra,” Aurum, kamu ikut saya untuk memberikan penjelasan ke Ruang Kepala Sekolah!”

“Tunggu, Pak saya benar-benar nggak tahu apa-apa,” kata Aurum dengan cemas.

“Jelaskan nanti di Ruang Kepala Sekolah!” kata Pak Sastra. Akhirnya denga terpaksa, Aurum mengikuti Pak Sastra. Sin dan Loli mengikuti mereka berdua dari belakang. Beberapa guru kemudian datang untuk mengantar Alex ke rumah sakit.

Di ruang Kepala Sekolah itu berkumpullah beberapa orang yaitu Pak Sastra, Sin, Aurum, Loli, seorang guru BK dan juga Bapak Kepala Sekolah. Aurum diinterogasi habis-habisan oleh Pak Sastra dan pihak guru. Aurum sama sekali tak bisa menjelaskan mengenai adanya sisik yang ada di tempat makannya, dan juga di kaus tangannya. Ia benar-benar terpojok.

“Beberapa temanmu mengatakan bahwa tadi sewaktu jam olahraga, kamu saya panggil. Apa benar?” tanya Pak Sastra kepada Aurum. Aurum hanya mengangguk lemah.

“Iya Pak, tapi saya tadi mencari-cari Bapak tidak ketemu,” kata Aurum.

“Aneh, tapi saya tidak memanggil kamu,” kata Pak Sastra. Semuanya terkejut terutama Aurum.”Kamu mencari-cari alasan. Berkata kalau saya memanggilmu. Padahal sebenarnya kamu sedang mempersiapkan rencana mencelakai Alex kan?”

Aurum menatap Pak sastra dengan wajah yang sembab,” memang, apa alasan saya sehingga saya harus mencelakai Alex?”

Loli ikut membuka suara.”Kamu pernah bilang kan kalau kamu dulu teman SMP dengan Alex dan kalian bahkan musuhan. Tapi aku nggak nyangka kalau kamu bakalan tega melakukannya,” Aurum terkejut mendengar kata-kata Lolo yang menambah tuduhan atas ia semakin kuat. Mata Pak Sastra semakin tajam menatap Aurum yang kini kian tertunduk. Ekspresi wajahnya begitu ketakutan. Sin merasakan suasana waktu itu benar-benar panas, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi apa???

**********

Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit dari rumahnya, akhirnya Sin sampai juga di tempat yang dia tuju. Siang ini ia memang berencana untuk menjenguk Alex di rumahnya. Jarak rumah dengan jalan raya cukup jauh. Setelah tiga kali kesasar dan dengan peluh yang cukup deras, akhirnya ia menemukan rumas Alex.

Sin melongok sebentar ke arah halaman rumah yang minimalis itu, takut kalau salah rumah lagi. Ia tak mau mengambil resiko masuk sembarangan hingga hampir digigit oleh anjing penjaga milik rumah sebelumnya. Setelah yakin, dia mulai masuk ke halaman rumah tersebut. Kemudian diketuknya pintu rumah denga pelan. Seorang ibu membuka pintu. Wajahnya mirip dengan Alex. Pasti ibunya, batin Sin. Setelah mengatakan tujuannya, ibu Alex segera mempersilakan Sin masuk. Sin langsung dipersilakan untuk menuju kamar Alex saja. Ketika melewati ruang makan, ia sekilas melihat remaja perempuan sebayanya. Ketika ia melihatnya, gadis tersebut langsung membalikkan badan. Sin belum sempat melihat dengan jelas siapa gadis itu. Ah, tidak penting, batinnya. Kata ibunya Alex, gadis tadi adalah keponakannya, yang artinya adalah sepupu Alex. Setelah sampai di depan pintu kamar, ibu Alex langsung menyuruhnya masuk.

BUKKK!!!

Tiba-tiba sebuah benda yang empuk mengenai muka Sin dengan keras, ia tidak sempat berkelit. Dipegangnya bantal yang tadi sukses menghantam mukanya. Sin menatap sosok tubuh yang sedang berada di atas ranjang dengan melotot. Sosok tersebut tertawa terbahak-bahak.

“Dasar curang!” seru Sin, Alex masih tertawa di ranjangnya.

“Hahahaha, kamu kena kan. Sedikit curang nggak apa-apa dong. Kan ini siasat,” kata Alex.

“Siasat apa? emangnya mau perang? Kamu ini baru aja pulang dari rumah sakit udah jahil lagi, dasar kurang kerjaan,” kata Sin jengkel. Kemudian dia duduk di pinggir ranjang Alex.

“Maaf deh,” kata Alex,”Oh ya, ngomong-ngomong kamu pengunjung pertama di rumahku lho.”

“Emangnya aku ini mau plesir di rumahmu?”kata Sin tambah jengkel.”Lagian kamu ini aneh, mau dijenguk di rumah sakit nggak mau, pake ngotot mau cepet pulang lagi. Oh ya, teman-teman mau jenguk kamu besok kayanya,” Alex hanya mengangguk. Tiba-tiba dia beranjak dari ranjangnya.

“Eh, Sin. Aku mau ke kamar mandi dulu ya,” katanya denga cepat dan tergesa-gesa. Akhirnya Sin merasa bosan ditinggal sendiri di kamar Alex. Untung saja ibunya Alex masuk membawakan segelas jus jeruk.

“Ayahnya Alex sedang ke rumah adiknya, pamannya Alex. Katanya ia mau melihat koleksi binatang baru dari pamannya itu,” kata ibu Alex.

Bima mengernyitkan dahinya.”Memangnya koleksi binatang apa Tante?”

Ibu Alex terkejut dengan pertanyaan Sin. Ia hanya diam dan sedikit bingung.”Oh, bukan apa-apa. tidak penting juga. Ah, si Alex kalau di kamar mandi lama sekali. Kamu jadi terlalu lama ditinggal ya. Ya sudah, tante mau ke dapur dulu ya, takut masakannya gosong,” ibu Alex langsung pergi begitu saja meninggalkan Sin yang kini hanya melongo karena juga ikut bingung dengan sikap ibunya Alex.

Akhirnya, dia memilih untuk berkeliling melihat pemandangan ke jendela. Lagi-lagi ia melihat gadis yang berada di ruang makan tadi. Sin berkeliling kamar Alex yang lumayan besar itu, saking bosannya ia tidak sadar kalau sudah mondar-mandir sedari tadi. Tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak meja yang ada di kamar tersebut. Beberapa buku jatuh membuat Sin segera membereskannya. Ia benar-benar jenuh sampai-sampai tidak konsentrasi. Tidak berapa lama lagi Alex kembali. Ia tersenyum kepada Sin yang sedang membereskan buku.

Sin menoleh ke arah Alex. Ia menatap Alex lama, ada sesuatu yang dia rasakan. Perasaan apa ini?

****tbc****

Iklan

Tentang aneeminie90

i'm a funny girl who loves KPOP especially super junior ♥ 사 랑 해 요 슈 퍼 주 니 어 you always be in my heart I'm also a SMstan :) I love Jorge Lorenzo and Thomas Sangster also :D
Pos ini dipublikasikan di Cerpen dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s